#19 Rumah Pertama : Mending Beli Sekarang atau Sewa Dulu ya?

Beberapa tahun terakhir banyak yang mengeluhkan mahalnya harga properti di tengah kondisi pasar properti yang cenderung stagnan. Banyak orang yang bilang bahwa sulit bagi milenial untuk punya properti sendiri. Berbagai pihak pun mencoba mengatasi hal ini, misalnya BI yang melonggarkan persyaratan DP untuk rumah pertama dan Bank-bank yang mengeluarkan program KPR yang lebih ramah milenial. […]

#19 Rumah Pertama : Mending Beli Sekarang atau Sewa Dulu ya?

Lumatan Cabai di Wajah

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono/Jawa Pos

CABAI-CABAI dalam cobek itu belum lagi lumat seutuhnya, tapi Tinah sudah meraupnya dengan tangan telanjang, lalu mengusap-ratakan ke wajah suaminya –yang sedang asyik menonton TV. Lelaki itu meraung, berjalan pontang-panting mencari air buat basuh muka. Segenap wajah dan matanya bagai dicelup ke bara api. Panas amit-amit. Sementara Tinah bergegas pergi dari rumah itu sambil menuntun tangan anaknya yang cuma melongo.

View original post 1,811 more words

What to do within 3 days 2 nights in Bali?

DSCF4608Planning for a short time self-trip has always been something intriguing. I’ve got dozens of questions from my pals about places they should visit if there’s only little time during their Bali-trip. Most people choose to take 3 days stay-cation in Bali, on weekend plus one day off duty on either Friday or Monday. Actually, you need to decide on what activity you would prefer to spend time in. Is it shopping? Adventures? Or having some relaxing nature touch as an escape from your busy days? I’ll have a resume of places you may be longing to visit which is located in around Denpasar-Jimbaran.

  1. Sunrise

Watching the sun rises from its sleeping bed would be the best kick-off for the day. There are several places known for its beautiful sunrise.

Sanur Beach

It takes nearly 30mins riding if you’re staying in either Kuta or Legian. You only need to go east, along the By Pass Ngurah Rai Road. If you’re looking for the best sunrise view, then click “Pantai Matahari Terbit” option as you’re using the GPS. The beach has two sunrise points which was built like a shelter with the deck beneath it. A very relaxing place. But as the sun rises higher, the beach would likely be visited by much more people.
If you prefer a quieter, like much quieter, sunrise point in around Sanur Beach, then you can choose the “Pantai Sanur” option. The GPS will lead you to a place where all the hotels’ windows are pointed at. Yup. It’s right behind the hotel and resort areas. There is also where the breakfast-specialist restaurants are mainly located. Many do yoga and meditation in this area of the beach. Or maybe you can choose to stay at one of the hotels in Sanur area instead!

Tanah Lot

Tanah Lot is located in Tabanan, 45 mins far from Denpasar. The beach is easy to differentiate than those in South Bali. Tanah Lot has rocky texture, unlike the South Bali area which are more of sandy beaches. You’ll need proper slippers when going here. Near the beach, there’s a temple where Balinese still actively do their rituals in. If you’re walking from the parking area, then you’ll find selling area where local people sell souvenirs and snacks.

  1. Adventure

Tanjung Benoa

Tanjung Benoa still remains as the most known water sport centre in Bali. There are scuba diving, jet skiing, sea walking, and the least adrenaline rush sport -banana boat. You should probably prepare at least IDR1,000,000 for this. Water sport providers here are certified. And don’t forget to pay attention to the instructions given.

Penangkaran Penyu

If you’re going to this place, you’ll definitely need to go to Tanjung Benoa. Because here is where the ship heading there being docked. It costs around IDR700,000 (you can split the bill with your friends). Once you get there, you’ll be welcomed with white sand. You can take pictures with the animals in there. They have turtles, iguana, and several birds species.

  1. Sun-bathing

Pandawa

Located at the southern-most part of this island, it makes this beach somehow special. This beach was opened not too long ago. You’ll still find some ongoing works in the area. It’s interesting because on the way there is surrounded with white cliffs. And 5 statues of pandawa (consisting 5 sibling of heroes in Java and Bali legend) is being crafted and placed in the cliff’s walls. Pandawa goes as the first in my list if you’re looking for a sun-bathing beach. It’s really beautiful, not too crowded at the day time if you’re planning on sun-bathing, because local people tend to take pictures at the legendary statues. The white sand keeps calling us for coming back!

Dreamland beach

The beach is located in the rural and resorts area. But it obviously has the best service for sunbathing needs. Many people sell cold drinks, and also services for sun-bathing massage.

  1. Shopping

Seminyak

If you’re coming for branded things, Seminyak will fullfill you dream-shopping experience. You’ll find stores alongside the road with beautiful and eccentric styles. There you should really go!

ITDC Nusa Dua

This is one of the hidden shopping gems located in Jimbaran. Many local people don’t know this place. So, the visitors tend to be those who are staying at the hotel and resorts there. You can find basic holiday needs, traditional souvenirs, and most importantly is the culinary experience. Many restaurants serve tasty seafood cooking.

Krisna Oleh-Oleh Bali

This franchise store can almost be found in many part of Bali Island. But the closest to tourism area are those located in By Pass Ngurah Rai and Tuban Road. Both are the ways heading to the airport. Many souvenirs, skincare, and local snacks would complete your holiday experience.

  1. Sunsets

Kuta Beach

This place has been widely known as a place for surfing learners due to its waves. During the sunset time, this place will give you a thrilling sunset experience like no other places.

Uluwatu Kecak Dance

This also located in Jimbaran, but it takes around 45 mins to get there from Kuta. It costs IDR150,000 for the show, including the entry ticket to the beach. If you’re only coming for the beach, then you only need to pay not more than IDR30,000.

This must-visit list can be arranged according to what you’re looking for. And don’t forget to look at the googlemaps thoroughly as you plan your itinerary. Don’t worry about toilets because each place has one. And for musala, you can’t find it near beaches so just do some search about malls or stores near the place that would probably has one. Don’t ever forget buying sunscreen with high SPFs because the heat might have you burned.

LIMA CERITA – A BOOK REVIEW

WhatsApp Image 2019-11-17 at 15.55.28
“Penemuan bahwa kesempurnaan adalah pertumbuhan tanpa akhir dan menjalani hidup seutuh-utuhnya” – Desi Anwar, 2019

Pertengahan tahun 2019 lalu saya membeli sebuah buku yang merupakan debut fiksi karya presenter kondang, Desi Anwar. Buku ini sebenarnya sudah pernah terbit dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Growing Pains: Five Stories, Five Lives’, yang kemudian pada awal 2019 terbit versi bahasa Indonesianya yaitu ‘Lima Cerita’. Dengan cover yang didominasi warna hijau tosca, awalnya tidak terlalu menarik saya. Namun, sebaris kalimat di bagian kiri bawah mencuri perhatian saya. It is said, ‘Kisah-kisah menjadi dewasa.’ Dan sesuai dengan judulnya, buku ini berisi lima kisah pendek yang masing-masing memberikan impress berbeda tentang kehidupan.

Diletakkan sebagai chapter pembuka, cerita pendek berjudul “Kematian” menceritakan relasi kompleks di kehidupan masa kini antara ayah dan anak perempuan. Tokoh anak sebagai pelaku utama, menambah kedekatan emosi pembaca dengan cerita. Diksi dan kosa kata akademis yang kaya, membuat bacaan jadi tidak membosankan. Pun alur cerita yang cukup membuat pembaca menerka-nerka sepanjang waktu, yang mana hitam dan yang mana putih, dengan tanpa melupakan adanya sisi abu-abu. Sebegitu mengguncang emosi.

“Cerita Delia” melanjutkan jalannya pesan yang hendak disampaikan Desi. Kehidupan Delia dan suaminya diceritakan melalui sudut pandang seorang mahasiswa, Djuna, yang menumpang tinggal di rumah mereka. Di mata Djuna, kehidupan sepasang manusia ini adalah miniatur kehidupan yang ideal. Mereka saling menyayangi dan bantu-mambantu. Happy ending untuk cerpen ini sudah terpatri di kepala saya pada saat itu. Walau nyatanya tidak. This chapter reminds us that the world isn’t always how it seems from the surface. Kita tidak pernah tahu apa yang pernah dan sedang dilalui setiap orang. Chapter ini menurut saya, memiliki alur penceritaan yang terbaik.

Cerpen ketiga bejudul “Pedihnya Pendewasaan”. Lagi-lagi saya dibuat jatuh cinta dengan gaya becerita Desi Anwar. Bagian ini berkisah tentang tekanan yang dialami seorang anak usia belasan yang membawanya pada depresi dan self-harm. Dalam cerpen ini, tekanan yang harus dihadapi tokoh utama berwujud kompetisi yang tiada akhir di sekolahSebuah kritik sosial secara tidak langsung, karena tekanan-tekanan seperti ini tidak pernah tampak di mata masyarakat kita. Diceritakan tokoh utama melakukan setiap aktivitas dengan normal dan termasuk anak beprestasi. Sekelilingnya menilai ia anak yang tumbuh dengan baik. But, something’s missing. Setiap orang juga memiliki kondisi mental yang perlu diperhatikan. Tapi, seringnya semua abai. Termasuk kita terhadap diri sendiri. Berbeda dari cerpen sebelumnya yang dengan gamblang mengungkapkan akhir cerita yang sedih, kali ini Desi Anwar membebaskan kita menentukan apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Atau, ending yang menggantung.

Yang keempat, adalah cerpen “Cinta Sempurna”. Cerpen yang menyampaikan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang sempurna, melalui sosok Adela. Adela, seorang perempuan biasa, yang beberapa kali jatuh hati pada orang-orang (atau momen) yang dianggap akan membawanya pada kesempurnaan hidup. Jatuh cinta, hilang. Jatuh cinta, hilang lagi, sampai ia sadar bahwa hidup adalah tentang berkorban berkali-kali dan menanti reaksi apa yang akan diberikan semesta atas apa yang telah dilakukan. Pada cerpen ini pula saya mengambil sebuah quote yang sangat membekas. “Penemuan bahwa kesempurnaan adalah pertumbuhan tanpa akhir dan menjalani hidup seutuh-utuhnya”. Chapter ini berbeda dari ketiga cerpen sebelumnya yang membawa kita pada kesimpulan melalui alur cerita. Di sini, dengan eksplisit tercantumkan apa-apa yang ada dalam benak Desi tentang kehidupan.

Jika cerita tentang seorang ayah dan anaknya diletakkan sebagai pembuka, maka kisah May dan ibunya tentu menjadi penutup yang pas bagi buku ini. May digambarkan sebagai anak perempuan yang selalu mempertanyakan arti perlakuan-perlakuan ibunya kepadanya. Ibunya yang kerap kali meninggalkannya dan memiliki cara mendidik yang menurutnya menyakitkan. Sayangnya jawaban-jawaban itu baru ia temukan ketika ibunya telah meninggal. Ada beberapa hal yang saya sadari setelah sampai pada chapter ini. Desi memiliki kesadaran bahwa hubungan antara anak dan kedua orang tuanya tidak sesimpel kelihatannya. Banyak nasihat tanpa kata, selipan pesan dalam ketidak hadiran, juga harapan dan sayang yang selalu dibumbungkan. Cerita ini menguatkan kita bahwa tak ada salahnya menjadi dewasa secara mandiri. Karena hal terpenting adalah kemampuan untuk berdiri di atas kedua kaki sendiri.

Desi Anwar mampu merangkum peran dan perjalanan hidup setiap manusia melalui lima cerita pendek yang cukup mewakili. Setiap kita adalah anak bagi orang tua, suami atau istri bagi pasangan, dan kawan bagi teman-teman kita. Diri kita, yang berusaha mengejar kebahagiaan hidup menurut versi masing-masing, yang di saat menjalaninya tentu kita pernah merasakan jatuh dan kehampaan. Namun, bagaimana kita bangkit dan menjadi versi terbaik dari diri kita adalah hal yang terpenting. Begitu, terus menerus. Sampai waktu yang berkata, “cukup”.

Denpasar, 10 Januari 2020

Asa.

 

PURA ULUN DANU-BATUR & PURA BESAKIH

Seperti Mekkah bagi penganut Hindu Dharma di Pulau Dewata

Pada tanggal 30 Maret 2019 lalu, saya diajak oleh pegawai di kantor baru saya untuk ikut berkeliling daerah Bali timur. Disana, mereka akan melaksanakan ibadah lima tahunan (Hari Raya Panca Wali Krama) di dua pura besar yang ada di Bali. Saya sebagai perantau dari Jawa bersemangat untuk mengiyakan ajakan tersebut. Something not even Mr. President would have the chance to experience. 

Bangun satu jam lebih pagi dari biasanya, lalu mandi, dan sarapan sekenanya. Kami meluncur pukul 7 pagi dari kantor di Denpasar. Berangkat dengan satu buah bus kecil yang tidak penuh terisi. Semua yang hendak beribadah mengenakan pakaian adat Bali. Saya duduk sendirian di kursi tengah dekat jendela dengan jilbab ungu, kaos putih, dan membalutkan kain ikat dengan motif nusantara yang dulu saya pakai wisuda. Yang berangkat ke pura dengan niat berpelesir bukan hanya saya, ada dua orang perantau dari Jakarta (Hai Mas Asnan), dan Purwekorto (Hai Mbak Salsa). Keduanya juga mengenakan baju motif nusantara. Perjalanan dari Denpasar ke Bangli menempuh waktu sekitar 1 jam 45 menit, melalui Kabupaten Gianyar yang relatif lengang. Sembari menikmati pemandangan, kami mendiskusikan apa yang akan kita lakukan sewaktu rekan-rekan yang lain beribadah.

Mengantuk, saya tertidur selama kira-kira 20 menit. Dan begitu terbangun, langsung disambut dengan pemandangan Danau Batur yang terhampar di sebelah kanan bus. Semuanya sibuk memotret dan bergumam takjub. Warna air danau yang biru berpadu dengan hijau pegunungan di sekeliling danau. Gumpalan awan pada hari itu pun sangat rendah dan putih laiknya kapas.

batur

Setelah sibuk memotret dari kaca jendela bus, bus tetap tidak beranjak dari tempatnya. Saya baru tersadar ,semua kendaraan berhenti di tengah-tengah jalan. Dan orang-orang memilih berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan ke Pura Ulun Danu. Memang sudah biasa, katanya. Setiap perayaan hari raya besar, akses menuju pura selalu tersendat, dan berakhir masyarakat harus berjalan kaki menempuh kira-kira 3km sambil membawa berbagai sesajen yang akan mereka persembahkan.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WITA. Lumayan menyengat terik mataharinya. Lalu Mas Asnan berinisatif untuk ikut turun bus dan berjalan kaki menuju pura. Saya dan Mbak Salsa mengiyakan. Beruntung sekali hari itu saya memakai sepatu kets. Di tengah-tengah perjalanan, saya mendengar celetukan salah seorang yang akan beribadah di pura. “Udah kayak di Mekkah ini.” Kami bertiga lantas tertawa.

Sesampainya di Pura Ulun Danu, kami berkeliling mencari spot yang paling ciamik untuk berfoto. Pura yang satu ini berbeda dari kebanyakan pura yang ada di Bali. Karena, lokasinya sangat luas dan memiliki banyak nilai sejarah. Terutama setelah kerusakannya pada zaman dahulu karena letusan Gunung Batur. Musik gamelan Bali juga terdengar sahut menyahut tak henti-henti selama seharian penuh. 

WhatsApp Image 2019-05-15 at 3.31.10 PM

whatsapp-image-2019-05-15-at-3.31.11-pm-e1557909265240.jpeg
Suasana di dalam Pura

Seusai rekan-rekan lain beribadah, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih di Kabupaten Karangasem. And still, the traffic wouldn’t cooperate. It took nearly 4 hours for a 23 kilometers bus ride. But, the view of the temple was really worth the ride, guys!

Sesampainya di Pura Besakih, baterai handphone saya sudah tidak tertolong lagi. Cukup kecewa, mengingat Pura Besakih ini berjarak cukup jauh dari tempat tinggal saya di Denpasar. Dan saya kira kesempatan berkunjung kemari tidak akan terulang.

Oh iya, ada satu lagi pengalaman unik yang kami alami di sini, tepatnya pada saat memasuki waktu salat. Di sebuah desa adat pedalaman Bali yang dekat dengan pura agung, rasa-rasanya tidak mungkin ada musala. Kami berjalan menyusuri sebagian kampung adat, mencari-cari pendopo atau pos kecil yang mungkin bisa kami gunakan. Tidak jauh dari tempat bus terparkir, kami menemukan teras depan yang cukup luas dari sebuah toko yang sedang tutup. Toko sembako, nampaknya. Terdapat dua buah altar batu tempat sesajen di sisi kanan dan kiri muka toko.

“Ini, di sini boleh nih.” Usul saya. Karena tempatnya cukup tertutup dan tidak jauh dari rombongan. Kami bergegas wudu di kamar mandi umum terdekat dan melaksanakan salat. Jadilah, kami salat di depan teras dengan dua buah altar dan harum dupa di dekat kami. 

Seusainya, untuk melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih, kami meluncur dengan 3 ojek motor yang dipesankan oleh salah seorang pegawai senior. Ditemani pemandangan hijau pepohonan, dan orang-orang yang serempak mengarah ke pura dengan baju adat warna putih mereka. Begitu sampai, kami langsung disambut dengan hawa sejuk dan harum bebungaan. Walau begitu, kondisi sangat ramai. Rasa-rasanya seluruh umat Hindu di Pulau Bali sedang berkumpul di sini.

Pura Besakih memiliki banyak undak-undakan berbatu. Payung-payung warna merah dan kuning meneduhi patung-patung kecil yang berjajar di setiap undakan.  Ada beberapa bagian bangunan di dalamnya. Should I divide it, Besakih terdiri dari komplek bangunan utama, dan tempat untuk pengunjung. Bangunan utama adalah tempat persembahyangan, dan bersebelahan dengan komplek yang sepertinya memang ditujukan untuk turis. Kami hunting foto di sana. Komplek ini di depannya juga ada dua gapura besar berwarna hitam. Di dalamnya, ada beberapa rumah tradisional Bali dan altar kecil. 

Menjelang senja, ritual upacara masih belum usai. Kami bertiga memutuskan duduk di kedai kecil sambil menikmati popmie panas. Berbincang-bincang dan memotret sana sini. Sedikit curhatan kami, ternyata sama. The air was refreshing, but at the same time, we could feel that we were far from home. 

Acara peribadatan selesai saat petang menjelang. Selesai makan sosis bakar dan takoyaki, kami meluncur kembali ke Denpasar.

Random Minds

Jakarta, 15 April 2018.

Hujan sore ini baru berakhir. Sepatu mahal, sandal karet, melangkah bersamaan dengan sisa rerintik hujan di jalanan kecil pemisah muka rumah yang berhadapan.

Sejuk Jakarta usai hujan mengingatkan kita, bahwa Ia bisa memeluk siapa saja yang tak patah harapan.
Jakarta, unik dengan segala ritmenya. Bagi siapa saja yang pernah bersapa, dinamisnya takkan lepas dari ingatan.

Pukul sembilan malam. Di antara peluh, para Ayah berebut ruas jalanan. Berharap, walau sekadar mengecup kening anaknya.

Dalam letih, anak-anak muda berdiri menggenggam erat pegangan kereta. Benaknya dipenuhi harapan tentang langkahnya hari ini. Walau sedikit, semoga akan menjadi awal citanya.

MY DOCUMENTARY MOVIE PROJECT MAKING

How do you do everyone???!!!

It’s nearly the end of 2017 and I’ve just had my dinner earlier. LOL. I rushed to my room to give you updates about the experience I had when I was still a student in Brawijaya University, Malang in around May 2017. Yippieee!

 

1012271
I’d been a group with them for the past semester. we made assigments together in all 2nd semester! and this is our last project for PKn class ^^ (I’m the one squatting with yellow veil)

Our lecturer gave us an assignment that made us to do something about social issues around us. She told us about the city we’re living in, and asked us if our existence could be of some help to solve the problems.

We started with the idea of doing some social campaign. We planned to visit some non-profit caretaker organization who put concerns about the disables. But later on, with the preparations we had and the short period of time given, we thought we wouldn’t make  to go on with it. too much work. so we turned on to the other plans.DSC05947

I recommended them about filming some documenter movie. We all agreed and started talking about what we should make. Rifkha, one of my pals told us about this one old man who sells fuel by the edge of the road whom she happened to see several weeks ago.

The video making process went fun! It became one of the most memorable moment that I experience.

You can watch the final video of our group project by clicking the link below! ^^

 

한국어 1 Verb & Adjective (Conjugation) Let’s Learn Korean Grammar! ^^

Hi everyone! It’s Tia! 🙂

as I’ve told you, I’m going to write anything related to my interests. and this time I’ll give updates about learning basic Korean language. But firstly I wanna straight this out. Im not studying in Korean Literature nor Korean Language Major. but I have strong desire to be able to speak in this language. Thus, neither you nor i have mastered this language. we’re learning together. So I can possibly make mistakes and you’re all welcome to give corrections. And everything I write in this post is (or maybe so are the upcoming posts) based on my notes from the videos that I learnt from.

I believe most of this post’s readers have understood a bit of korean language, at least have memorized hangeul.  맞아요? ^^

I’ll start from these 3 forms:

아요,해요,어요. those are used in casual/polite korean sentences.

  1. 아요

아요 is used when the vowel of the verb’s ending syllable is either ㅏ or ㅗ . Take a look at these following examples:

  • 살다 (Sal-da. sal. it sounds “a”)-> 살아요
  • 놀다 (nol-da. nol. it sounds “o”)-> 놀아요
  • 만나다 (man na-da. it already has the “a” sound and no consonant afterwards) -> 만나요
  • 오다 (o-da. its basic word is only 오. so you can just add ㅏ afterwards. and because there is no consonants between two vowels, then you can just put them together. then) -> 와요.
  • 보다 (bo-da. bo. it sounds o with no consonants afterwards. thus, when you putㅏthere will be no consonants between two vowels. just match them together!then,) -> 봐요.
  1. 해요

해요 means”to do”. it’s actually quiet easier to understand because it is very common in verb endings. you can easily find this in a lot of korean verbs^^

and this conjugation can only be put in verbs with 하다.

  • 하다(everytime you see 하다 it will become 해요 in casual form.) -> 해요
  • 좋아하다(you only need to put attention up to “좋아하”다) ->좋아해요
  • 노래하다 -> 노래해요.
  1. 어요

어요 is used in other cases. whenever the verb does not end with ㅏ or ㅗor 하다.

check out these cases below!

  • 먹다-> 먹어요
  • 입다 ->입어요
  • 마시다 (nah. there is always something interesting to talk about when it comes to two vowels. as you can see, 마시+어요, there is no consonants between two vowels (시+어) you can just put them together using 여 ) -> 마셔요
  • 가르치다 -> 가르쳐요
  • 세우다 -> (ㅜ + ㅓ = 워 ) 세워요
  • 담배를 피우다 -> (담배를 피워요)
  • 쓰다 (AND ALSO THIS ONE. ㅡ+ㅓ= ㅓ. you can just get rid of ㅡ.) 써요
  • 바쁘다 -> (hum humm hum. wait! you cant just pass this point. I hate to break this to you but I must tell this in case you’re doing it wrong. though it might has the same ending vowel 쁘, 으. but it has a preceeding vowel 바. you put the conjugation vowel according to the previous syllable’s vowel if it is either ㅏ or ㅗ. so in this case, it becomes 바빠) -> 바빠요.
  • 슬프다 (Its preceeding syllable’s vowel isnt ㅏ or ㅗ, so you can just use the ordinary form, ㅡ+ㅓ) -> 슬퍼요
  • 예쁘다 -> 예뻐요.

 

SO THAT’S ALL FOR TODAY ^^ hope it will help a lot in your study. see ya in the next lesson!

 

note: please take credits if you’re going to post this

New Semester, New College (2017)

Halo! Here again! 🙂

How’re things going? Hope everyone’s doing well:)

As you know, I attended a public university for 2 amazing semesters. Majoring in Accounting. But it already seemed like I wouldn’t be getting my degree in this university from the start, for my parents. I have had this idea even since I just became a freshman. I failed last year’s test. But, re-taking this exam? This idea has never been once crossed my mind. I (re)took a government owned college entrance exam this year.

and, I magically passed the tests.

Attending this college means i will automatically become a civil servant once I graduate. My parents are so happy.

My ex-University is located in my hometown so everything is just familiar to me. It’s the newcomers who should settle their selves in my city. It’s pretty boring actually because I have to fight over old faces of this city. (Fortunately it turned out to be amazing because I have my friends, I even discovered new sides of my city^^)

I miss my squad. They’re like gifts to me.  I really think that we’re really meant to be friends. I love them:)

318635
my best friends at FEB UB

 

But, life must go on.

Next, my recent college is in the capital city. It’s exactly 867 kilometers away from my hometown (I checked the google).

Malang – South Tangerang

Now, I study in my new college. Majoring in Treasury. I’m happy, excited, and anxious at the same time. Experiencing new things that are about to come. Adapting to a whole new circumtance is something inevitable.