Sayup Sempadan

CHAPTER 1

Suatu kali, Ibu pernah berkisah tentang Batimuru. Diceritakannya, Batimuru adalah nama sebuah tempat paling damai yang ada di muka bumi. Tempat yang tepat untuk mencari inspirasi, ilham, wangsit, atau apapun kau ingin menyebutnya.

“Apa yang membuatnya begitu, Bu? Ada apakah di sana?” Danar bertanya.

“Orang-orangnya, Nak. Orang-orang di sana sangat menghargai alam.” Ujarnya sembari mengadon singkong rebus sebelum dicetak menjadi makanan kesukaan Danar, getuk. Danar sangat suka makanan tradisional itu, persis seperti bapaknya yang orang Jawa. Di samping Ibu tergeletak sebuah nampan berisi bebungaan warna-warni yang akan dijadikan canang.

“Dan di manakah tempat itu berada, Bu?”

“Jauh, jauh sekali, Nar. Perlu waktu tiga ratus hari berjalan kaki dan menaiki kapal. Kau juga harus mengarungi banyak lembah dan pegunungan untuk bisa sampai ke sana. Hanya mereka yang kuat dan pemberanilah yang akan tiba.”

Danar mengerjapkan mata. Ia hanya baru bisa berhitung sampai sepuluh saat itu. Tak terbayang di kepalanya, seberapa jauhkah tiga ratus hari perjalanan itu? Tempat seperti apa yang pantas dibayar dengan perjalanan sepanjang itu? Pembicaraan senja itu terhenti saat terdengar suara bedug, isyarat panggilan untuk beribadah dari sebuah surau yang terletak beberapa rumah dari tempat tinggal mereka. Ibu pun meminta Danar untuk membawa canang dan dupa ke altar batu di depan rumah mereka, guna mereka bersembahyang.

“Oi, apa pula yang sedang memenuhi kepala kau itu, Nar?” Suara berat Encik Baiduri mendadak memenuhi bilik kecil di bawah dek kapal, tempat Danar biasa menghabiskan waktu menjelang tidurnya untuk merenung serta merindukan Ibu. Kali ini, juga sambil berlagak membaca. Danar menutup buku yang didapatkannya secara cuma-cuma dari seorang pedagang cinderamata ketika kapal mereka berlabuh di Yangon beberapa minggu lalu.

“Pak Cik.” Jawabnya santun, “Saya ingin bertanya, siapa tahu Anda punya jawaban.” Encik Baiduri mengernyitkan sebelah alisnya. Walau sedikit kaku, Danar menyukai Pria Melayu itu. Baginya, Encik Baiduri begitu kebapakan. Sosok yang tidak pernah ia rasakan keberadaannya sejak lahir.

“Apakah Anda pernah mendengar tentang Batimuru?”

Kernyitan alisnya kini menjadi dua, seperti berusaha mengingat-ingat. “Ah! Batimuru. Tentu saja. Sekali bertandang, tidak akan ada yang pernah melupakan tempat itu, keindahannya luar biasa.” Tukasnya bersemangat. “Encik pernah mengunjunginya?” Danar tak kalah besemangat.

“Ya, perjalanan yang tak mudah, namun memikat sangat. Batimuru ada di balik Himalaya, gunung tertinggi di dunia. Tak banyak orang mengetahui tempat itu.”
“Pak Cik, bagaimanakah cara agar saya dapat ke sana?”

Danar masih tampak menunggu.

“Turunlah di Pelabuhan Mangaluru, yang dari sana kau lanjut berjalanlah ke arah Utara. Seminggu lagi kita akan tiba di sana.

“Sudah pergi tidurlah. Lagak kau seperti Buya Hamka saja. Aku tahu itu buku berbahasa burma, yang aksaranya saja kau baru dapat pertama lihat!”

***

Lumatan Cabai di Wajah

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono/Jawa Pos

CABAI-CABAI dalam cobek itu belum lagi lumat seutuhnya, tapi Tinah sudah meraupnya dengan tangan telanjang, lalu mengusap-ratakan ke wajah suaminya –yang sedang asyik menonton TV. Lelaki itu meraung, berjalan pontang-panting mencari air buat basuh muka. Segenap wajah dan matanya bagai dicelup ke bara api. Panas amit-amit. Sementara Tinah bergegas pergi dari rumah itu sambil menuntun tangan anaknya yang cuma melongo.

View original post 1,811 more words

Andam Karam

Setiap malam, aku merayu Tuhan.

Ku katakan pada-Nya,

jika takdirku dan kamu memang untuk satu sama lain, maka buatlah kedua hati ini saling menatap.

Dan jika kamu dan aku hanyalah dua garis yang tak sengaja diiriskan, maka jangan lagi-lagi kita dipertemukan.

Namun, mungkin aku adalah seorang pendosa di kehidupan yang lalu.
Karena Tuhan tak mengabulkan keduanya.

Seperti kata Dewi Lestari,

Berbagi, takdir kita selalu

Kecuali, tiap kau jatuh hati”

What to do within 3 days 2 nights in Bali?

DSCF4608Planning for a short time self-trip has always been something intriguing. I’ve got dozens of questions from my pals about places they should visit if there’s only little time during their Bali-trip. Most people choose to take 3 days stay-cation in Bali, on weekend plus one day off duty on either Friday or Monday. Actually, you need to decide on what activity you would prefer to spend time in. Is it shopping? Adventures? Or having some relaxing nature touch as an escape from your busy days? I’ll have a resume of places you may be longing to visit which is located in around Denpasar-Jimbaran.

  1. Sunrise

Watching the sun rises from its sleeping bed would be the best kick-off for the day. There are several places known for its beautiful sunrise.

Sanur Beach

It takes nearly 30mins riding if you’re staying in either Kuta or Legian. You only need to go east, along the By Pass Ngurah Rai Road. If you’re looking for the best sunrise view, then click “Pantai Matahari Terbit” option as you’re using the GPS. The beach has two sunrise points which was built like a shelter with the deck beneath it. A very relaxing place. But as the sun rises higher, the beach would likely be visited by much more people.
If you prefer a quieter, like much quieter, sunrise point in around Sanur Beach, then you can choose the “Pantai Sanur” option. The GPS will lead you to a place where all the hotels’ windows are pointed at. Yup. It’s right behind the hotel and resort areas. There is also where the breakfast-specialist restaurants are mainly located. Many do yoga and meditation in this area of the beach. Or maybe you can choose to stay at one of the hotels in Sanur area instead!

Tanah Lot

Tanah Lot is located in Tabanan, 45 mins far from Denpasar. The beach is easy to differentiate than those in South Bali. Tanah Lot has rocky texture, unlike the South Bali area which are more of sandy beaches. You’ll need proper slippers when going here. Near the beach, there’s a temple where Balinese still actively do their rituals in. If you’re walking from the parking area, then you’ll find selling area where local people sell souvenirs and snacks.

  1. Adventure

Tanjung Benoa

Tanjung Benoa still remains as the most known water sport centre in Bali. There are scuba diving, jet skiing, sea walking, and the least adrenaline rush sport -banana boat. You should probably prepare at least IDR1,000,000 for this. Water sport providers here are certified. And don’t forget to pay attention to the instructions given.

Penangkaran Penyu

If you’re going to this place, you’ll definitely need to go to Tanjung Benoa. Because here is where the ship heading there being docked. It costs around IDR700,000 (you can split the bill with your friends). Once you get there, you’ll be welcomed with white sand. You can take pictures with the animals in there. They have turtles, iguana, and several birds species.

  1. Sun-bathing

Pandawa

Located at the southern-most part of this island, it makes this beach somehow special. This beach was opened not too long ago. You’ll still find some ongoing works in the area. It’s interesting because on the way there is surrounded with white cliffs. And 5 statues of pandawa (consisting 5 sibling of heroes in Java and Bali legend) is being crafted and placed in the cliff’s walls. Pandawa goes as the first in my list if you’re looking for a sun-bathing beach. It’s really beautiful, not too crowded at the day time if you’re planning on sun-bathing, because local people tend to take pictures at the legendary statues. The white sand keeps calling us for coming back!

Dreamland beach

The beach is located in the rural and resorts area. But it obviously has the best service for sunbathing needs. Many people sell cold drinks, and also services for sun-bathing massage.

  1. Shopping

Seminyak

If you’re coming for branded things, Seminyak will fullfill you dream-shopping experience. You’ll find stores alongside the road with beautiful and eccentric styles. There you should really go!

ITDC Nusa Dua

This is one of the hidden shopping gems located in Jimbaran. Many local people don’t know this place. So, the visitors tend to be those who are staying at the hotel and resorts there. You can find basic holiday needs, traditional souvenirs, and most importantly is the culinary experience. Many restaurants serve tasty seafood cooking.

Krisna Oleh-Oleh Bali

This franchise store can almost be found in many part of Bali Island. But the closest to tourism area are those located in By Pass Ngurah Rai and Tuban Road. Both are the ways heading to the airport. Many souvenirs, skincare, and local snacks would complete your holiday experience.

  1. Sunsets

Kuta Beach

This place has been widely known as a place for surfing learners due to its waves. During the sunset time, this place will give you a thrilling sunset experience like no other places.

Uluwatu Kecak Dance

This also located in Jimbaran, but it takes around 45 mins to get there from Kuta. It costs IDR150,000 for the show, including the entry ticket to the beach. If you’re only coming for the beach, then you only need to pay not more than IDR30,000.

This must-visit list can be arranged according to what you’re looking for. And don’t forget to look at the googlemaps thoroughly as you plan your itinerary. Don’t worry about toilets because each place has one. And for musala, you can’t find it near beaches so just do some search about malls or stores near the place that would probably has one. Don’t ever forget buying sunscreen with high SPFs because the heat might have you burned.

LIMA CERITA – A BOOK REVIEW

WhatsApp Image 2019-11-17 at 15.55.28
“Penemuan bahwa kesempurnaan adalah pertumbuhan tanpa akhir dan menjalani hidup seutuh-utuhnya” – Desi Anwar, 2019

Pertengahan tahun 2019 lalu saya membeli sebuah buku yang merupakan debut fiksi karya presenter kondang, Desi Anwar. Buku ini sebenarnya sudah pernah terbit dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Growing Pains: Five Stories, Five Lives’, yang kemudian pada awal 2019 terbit versi bahasa Indonesianya yaitu ‘Lima Cerita’. Dengan cover yang didominasi warna hijau tosca, awalnya tidak terlalu menarik saya. Namun, sebaris kalimat di bagian kiri bawah mencuri perhatian saya. It is said, ‘Kisah-kisah menjadi dewasa.’ Dan sesuai dengan judulnya, buku ini berisi lima kisah pendek yang masing-masing memberikan impress berbeda tentang kehidupan.

Diletakkan sebagai chapter pembuka, cerita pendek berjudul “Kematian” menceritakan relasi kompleks di kehidupan masa kini antara ayah dan anak perempuan. Tokoh anak sebagai pelaku utama, menambah kedekatan emosi pembaca dengan cerita. Diksi dan kosa kata akademis yang kaya, membuat bacaan jadi tidak membosankan. Pun alur cerita yang cukup membuat pembaca menerka-nerka sepanjang waktu, yang mana hitam dan yang mana putih, dengan tanpa melupakan adanya sisi abu-abu. Sebegitu mengguncang emosi.

“Cerita Delia” melanjutkan jalannya pesan yang hendak disampaikan Desi. Kehidupan Delia dan suaminya diceritakan melalui sudut pandang seorang mahasiswa, Djuna, yang menumpang tinggal di rumah mereka. Di mata Djuna, kehidupan sepasang manusia ini adalah miniatur kehidupan yang ideal. Mereka saling menyayangi dan bantu-mambantu. Happy ending untuk cerpen ini sudah terpatri di kepala saya pada saat itu. Walau nyatanya tidak. This chapter reminds us that the world isn’t always how it seems from the surface. Kita tidak pernah tahu apa yang pernah dan sedang dilalui setiap orang. Chapter ini menurut saya, memiliki alur penceritaan yang terbaik.

Cerpen ketiga bejudul “Pedihnya Pendewasaan”. Lagi-lagi saya dibuat jatuh cinta dengan gaya becerita Desi Anwar. Bagian ini berkisah tentang tekanan yang dialami seorang anak usia belasan yang membawanya pada depresi dan self-harm. Dalam cerpen ini, tekanan yang harus dihadapi tokoh utama berwujud kompetisi yang tiada akhir di sekolahSebuah kritik sosial secara tidak langsung, karena tekanan-tekanan seperti ini tidak pernah tampak di mata masyarakat kita. Diceritakan tokoh utama melakukan setiap aktivitas dengan normal dan termasuk anak beprestasi. Sekelilingnya menilai ia anak yang tumbuh dengan baik. But, something’s missing. Setiap orang juga memiliki kondisi mental yang perlu diperhatikan. Tapi, seringnya semua abai. Termasuk kita terhadap diri sendiri. Berbeda dari cerpen sebelumnya yang dengan gamblang mengungkapkan akhir cerita yang sedih, kali ini Desi Anwar membebaskan kita menentukan apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Atau, ending yang menggantung.

Yang keempat, adalah cerpen “Cinta Sempurna”. Cerpen yang menyampaikan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang sempurna, melalui sosok Adela. Adela, seorang perempuan biasa, yang beberapa kali jatuh hati pada orang-orang (atau momen) yang dianggap akan membawanya pada kesempurnaan hidup. Jatuh cinta, hilang. Jatuh cinta, hilang lagi, sampai ia sadar bahwa hidup adalah tentang berkorban berkali-kali dan menanti reaksi apa yang akan diberikan semesta atas apa yang telah dilakukan. Pada cerpen ini pula saya mengambil sebuah quote yang sangat membekas. “Penemuan bahwa kesempurnaan adalah pertumbuhan tanpa akhir dan menjalani hidup seutuh-utuhnya”. Chapter ini berbeda dari ketiga cerpen sebelumnya yang membawa kita pada kesimpulan melalui alur cerita. Di sini, dengan eksplisit tercantumkan apa-apa yang ada dalam benak Desi tentang kehidupan.

Jika cerita tentang seorang ayah dan anaknya diletakkan sebagai pembuka, maka kisah May dan ibunya tentu menjadi penutup yang pas bagi buku ini. May digambarkan sebagai anak perempuan yang selalu mempertanyakan arti perlakuan-perlakuan ibunya kepadanya. Ibunya yang kerap kali meninggalkannya dan memiliki cara mendidik yang menurutnya menyakitkan. Sayangnya jawaban-jawaban itu baru ia temukan ketika ibunya telah meninggal. Ada beberapa hal yang saya sadari setelah sampai pada chapter ini. Desi memiliki kesadaran bahwa hubungan antara anak dan kedua orang tuanya tidak sesimpel kelihatannya. Banyak nasihat tanpa kata, selipan pesan dalam ketidak hadiran, juga harapan dan sayang yang selalu dibumbungkan. Cerita ini menguatkan kita bahwa tak ada salahnya menjadi dewasa secara mandiri. Karena hal terpenting adalah kemampuan untuk berdiri di atas kedua kaki sendiri.

Desi Anwar mampu merangkum peran dan perjalanan hidup setiap manusia melalui lima cerita pendek yang cukup mewakili. Setiap kita adalah anak bagi orang tua, suami atau istri bagi pasangan, dan kawan bagi teman-teman kita. Diri kita, yang berusaha mengejar kebahagiaan hidup menurut versi masing-masing, yang di saat menjalaninya tentu kita pernah merasakan jatuh dan kehampaan. Namun, bagaimana kita bangkit dan menjadi versi terbaik dari diri kita adalah hal yang terpenting. Begitu, terus menerus. Sampai waktu yang berkata, “cukup”.

Denpasar, 10 Januari 2020

Asa.

 

PURA ULUN DANU-BATUR & PURA BESAKIH

Seperti Mekkah bagi penganut Hindu Dharma di Pulau Dewata

Pada tanggal 30 Maret 2019 lalu, saya diajak oleh pegawai di kantor baru saya untuk ikut berkeliling daerah Bali timur. Disana, mereka akan melaksanakan ibadah lima tahunan (Hari Raya Panca Wali Krama) di dua pura besar yang ada di Bali. Saya sebagai perantau dari Jawa bersemangat untuk mengiyakan ajakan tersebut. Something not even Mr. President would have the chance to experience. 

Bangun satu jam lebih pagi dari biasanya, lalu mandi, dan sarapan sekenanya. Kami meluncur pukul 7 pagi dari kantor di Denpasar. Berangkat dengan satu buah bus kecil yang tidak penuh terisi. Semua yang hendak beribadah mengenakan pakaian adat Bali. Saya duduk sendirian di kursi tengah dekat jendela dengan jilbab ungu, kaos putih, dan membalutkan kain ikat dengan motif nusantara yang dulu saya pakai wisuda. Yang berangkat ke pura dengan niat berpelesir bukan hanya saya, ada dua orang perantau dari Jakarta (Hai Mas Asnan), dan Purwekorto (Hai Mbak Salsa). Keduanya juga mengenakan baju motif nusantara. Perjalanan dari Denpasar ke Bangli menempuh waktu sekitar 1 jam 45 menit, melalui Kabupaten Gianyar yang relatif lengang. Sembari menikmati pemandangan, kami mendiskusikan apa yang akan kita lakukan sewaktu rekan-rekan yang lain beribadah.

Mengantuk, saya tertidur selama kira-kira 20 menit. Dan begitu terbangun, langsung disambut dengan pemandangan Danau Batur yang terhampar di sebelah kanan bus. Semuanya sibuk memotret dan bergumam takjub. Warna air danau yang biru berpadu dengan hijau pegunungan di sekeliling danau. Gumpalan awan pada hari itu pun sangat rendah dan putih laiknya kapas.

batur

Setelah sibuk memotret dari kaca jendela bus, bus tetap tidak beranjak dari tempatnya. Saya baru tersadar ,semua kendaraan berhenti di tengah-tengah jalan. Dan orang-orang memilih berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan ke Pura Ulun Danu. Memang sudah biasa, katanya. Setiap perayaan hari raya besar, akses menuju pura selalu tersendat, dan berakhir masyarakat harus berjalan kaki menempuh kira-kira 3km sambil membawa berbagai sesajen yang akan mereka persembahkan.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WITA. Lumayan menyengat terik mataharinya. Lalu Mas Asnan berinisatif untuk ikut turun bus dan berjalan kaki menuju pura. Saya dan Mbak Salsa mengiyakan. Beruntung sekali hari itu saya memakai sepatu kets. Di tengah-tengah perjalanan, saya mendengar celetukan salah seorang yang akan beribadah di pura. “Udah kayak di Mekkah ini.” Kami bertiga lantas tertawa.

Sesampainya di Pura Ulun Danu, kami berkeliling mencari spot yang paling ciamik untuk berfoto. Pura yang satu ini berbeda dari kebanyakan pura yang ada di Bali. Karena, lokasinya sangat luas dan memiliki banyak nilai sejarah. Terutama setelah kerusakannya pada zaman dahulu karena letusan Gunung Batur. Musik gamelan Bali juga terdengar sahut menyahut tak henti-henti selama seharian penuh. 

WhatsApp Image 2019-05-15 at 3.31.10 PM

whatsapp-image-2019-05-15-at-3.31.11-pm-e1557909265240.jpeg
Suasana di dalam Pura

Seusai rekan-rekan lain beribadah, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih di Kabupaten Karangasem. And still, the traffic wouldn’t cooperate. It took nearly 4 hours for a 23 kilometers bus ride. But, the view of the temple was really worth the ride, guys!

Sesampainya di Pura Besakih, baterai handphone saya sudah tidak tertolong lagi. Cukup kecewa, mengingat Pura Besakih ini berjarak cukup jauh dari tempat tinggal saya di Denpasar. Dan saya kira kesempatan berkunjung kemari tidak akan terulang.

Oh iya, ada satu lagi pengalaman unik yang kami alami di sini, tepatnya pada saat memasuki waktu salat. Di sebuah desa adat pedalaman Bali yang dekat dengan pura agung, rasa-rasanya tidak mungkin ada musala. Kami berjalan menyusuri sebagian kampung adat, mencari-cari pendopo atau pos kecil yang mungkin bisa kami gunakan. Tidak jauh dari tempat bus terparkir, kami menemukan teras depan yang cukup luas dari sebuah toko yang sedang tutup. Toko sembako, nampaknya. Terdapat dua buah altar batu tempat sesajen di sisi kanan dan kiri muka toko.

“Ini, di sini boleh nih.” Usul saya. Karena tempatnya cukup tertutup dan tidak jauh dari rombongan. Kami bergegas wudu di kamar mandi umum terdekat dan melaksanakan salat. Jadilah, kami salat di depan teras dengan dua buah altar dan harum dupa di dekat kami. 

Seusainya, untuk melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih, kami meluncur dengan 3 ojek motor yang dipesankan oleh salah seorang pegawai senior. Ditemani pemandangan hijau pepohonan, dan orang-orang yang serempak mengarah ke pura dengan baju adat warna putih mereka. Begitu sampai, kami langsung disambut dengan hawa sejuk dan harum bebungaan. Walau begitu, kondisi sangat ramai. Rasa-rasanya seluruh umat Hindu di Pulau Bali sedang berkumpul di sini.

Pura Besakih memiliki banyak undak-undakan berbatu. Payung-payung warna merah dan kuning meneduhi patung-patung kecil yang berjajar di setiap undakan.  Ada beberapa bagian bangunan di dalamnya. Should I divide it, Besakih terdiri dari komplek bangunan utama, dan tempat untuk pengunjung. Bangunan utama adalah tempat persembahyangan, dan bersebelahan dengan komplek yang sepertinya memang ditujukan untuk turis. Kami hunting foto di sana. Komplek ini di depannya juga ada dua gapura besar berwarna hitam. Di dalamnya, ada beberapa rumah tradisional Bali dan altar kecil. 

Menjelang senja, ritual upacara masih belum usai. Kami bertiga memutuskan duduk di kedai kecil sambil menikmati popmie panas. Berbincang-bincang dan memotret sana sini. Sedikit curhatan kami, ternyata sama. The air was refreshing, but at the same time, we could feel that we were far from home. 

Acara peribadatan selesai saat petang menjelang. Selesai makan sosis bakar dan takoyaki, kami meluncur kembali ke Denpasar.